Blog

Mari Menenun Kain Peradaban

Menenun Kain Peradaban

Mengawali tahun 2017 IKAPI Jabar resmi memiliki armada pengurus baru. Mereka adalah generasi baru industri penerbit buku Jawa Barat, meski harus dicatat beberapa pengurusnya sudah tak terbilang muda. Mereka berduapuluh-empat mulai bekerja sejak 2017 hingga 2021 mengemban amanah Munas IKAPI Jabar yang digelar pada akhir 2016 yang menetapkan misinya yakni mewujudkan industri perbukuan berkualitas dan profesional yang mampu membangun budaya membaca dalam rangka terciptanya peradaban bangsa yang luhur.

Misi yang tidak mudah untuk diwujudkan. Mengingat tantangan yang menghadang tidak lagi ringan. Beberapa diantaranya; Budaya literasi masyarakat yang masih rendah; iklim bisnis perbukuan yang semakin tak menentu; dan hadirnya teknologi telematika medsos utamanya makin menyita waktu dan perhatian generasi muda. Tantangan-tantangan itu harus diatasi bila kita menginginkan bangsa ini berperadaban unggul.

Insan perbukuan, khususnya para penerbit-lebih khsus lagi anggota IKAPI, adalah mereka yang paling berada di jantung semesta peradaban unggul. Dari rahim mereka lah lahir buku demi buku yang sangat menentukan kualitas peradaban. Jika buku yang dihasilkan buruk maka buruk pula alam pikiran bangsa tersebut. Jika buku yang diterbitkan baik maka baik pula alam pikiran bangsa tersebut.  Namun ternyata peran mulia yang dimainkan mereka tak seindah kenyataan yang mereka jalani. Tak mudah menjadi penerbit di Indonesia.

Setidaknya ada sembilan permasalahan yang membuat siapa pun  insan penerbitan harus berpikir keras untuk tetap bertahan di bisnis ini.

Pertama, regulasi yang memayungi bisnis perbukuan belum mampu menguatkan para penerbit dalam menjalankan roda usahanya. Sampai hari ini Rancangan Undang-Undang Sistem Perbukuan masih digodog wakil rakyat di DPR dan konon isinya masih belum cukup mengayomi bisnis perbukuan yang sehat.

Kedua, bahan baku. Bagaimana mungkin menghadirkan buku bermutu bila sangat jarang mendapatkan naskah yang berkualitas. Rendahnya penghargaan terhadap penulis, minimnya jumlah penulis yang produktif, membuat para penerbit harus berjuang ekstra  untuk tetap eksis. Belum lagi bahan baku pendukung seperti ketersediaan ilustrasi dan penyuntingan,  bahan baku cetak seperti kertas dan tinta yang harganya selangit, makin menambah berat siapa pun yang bergelut di bisnis ini.

Ketiga, Kualitas Buku. Keluhan masyarakat akan mutu buku-buku yang beredar, entah dari sisi konten yang ridak senonoh, penyuntingan yang ceroboh, mutu cetak yang tidak stabil, menambah daftar permasalahan kualitas  buku Indonesia yang tak bergerak jauh dari waktu ke waktu.

Keempat, Kuantitas Buku. Bagaimana buku tidak mahal jika penerbit ketika memulai produksi sebuah judul hanya berani mencetak 1000 eksemplar, jumlah yang semakin menurun dari 3000 eksemplar. Dengan sendirinya variabel perhitungan harga cetak menjadi melambung tinggi. Ini tentu berbeda dengan penerbit di India misalnya, yang memulai produksi sebuah judul buku sekurang-kurangnya 10.000 eksemplar. Harga buku mahal ini bagai lingkaran setan (Vicious Cyrcle) dalam perdagangan buku kita.

Kelima, Tata niaga perbukuan. Tak ada lagi toko buku di daerah-daerah. Jangan harap kita bisa mendapati toko buku di kecamatan-kecamatan, bahkan di kota kabupaten sudah sangat sulit mendapati toko buku yang mampu menyediakan buku-buku bagi masyarakatnya. Jika pun ada, dikuasai oleh toko buku raksasa dengan jumlah ruang display semakin terbatas, yang lebih memilih menyelamatkan bisnis penerbitannya sendiri daripada harus berbagi ruang display dengan penerbit lain.

Keenam, Lembaga Perbukuan. Keberadaan sebuah institusi yang berwibawa dan bertanggungjawab mengurusi masalah-masalah perbukuan sungguh tak bisa dihindarkan. Bahkan negara-negara maju sekali pun memiliki dewan buku atau sejenisnya. Sayang, kita pernah memiliki dewan buku nasional, namun karena orang-orang yang bernaung didalamnya dianggap tidak efektif rumah bagus itu diberangus beberapa waktu silam.

Ketujuh, Budaya Literasi yang rendah. Dalam urusan budaya literasi Indonesia masih menduduki peringkat bawah dari negara-negara di dunia. Peringkat yang diterbitkan oleh UNESCO tahun 2016 mengabarkan Indonesia masih di posisi 61. Ini tentu sangat memprihatinkan. Riset IKAPI mengungkap bahwa jumlah waktu yang digunakan oleh masyarakat untuk membaca buku dalam satu hari sudah semakin jauh dari angka 1 jam. Bandingkan dengan jumlah waktu yang digunakan mereka mengakses Whatsapp, Instagram, facebook, atau lainnya. Butuh langkah mendasar yang kuat untuk membalikkan keadaan, dan sayangnya itu tak bisa dilakukan oleh insan perbukuan sendirian.

Kedelapan, teknologi perbukuan. Bagaimana pun buku adalah media, eksistensinya sangat ebrgantung kepada platform yang digunakan. Pada masa kini orang lebih mengenal buku berplatform cetak di atas kertas dengan segala keterbatasan dan kelebihannya. Kehadiran teknologi telematika telah mengubah segalanya. Kini platform cetak sudah terasa out of date dengan hadirnya platform digital dan multi media. Kehadiran beragam platform tersebut membawa harapan baru bagi industri perbukuan. Dari sisi optimistik, semoga saja ,multiplatform ini akan memacu lebih banyak lagi buku bermutu diproduksi. Namun dari kalangan pesismistik, multiplatform ini tak akan bisa berbuat banyak bagi kebangkitan kembali industri perbukuan kita.

Kesembilan, efek. Keluhan hingga pengaduan masyarakat atas materi penerbitan buku semakin hari semakin meningkat. Dari permasalahan buku yang bermuatan ajaran komunisme yang dilarang hingga buku-buku sekolah yang memuat materi pornografi. Semua ini memerlukan perhatian tersendiri. Kemarahan publik atau pelanggaran privasi dari buku-buku yang diterbitkan bisa menimbulkan suasana kontraproduktif bagi usaha-usaha penerbitan lainnya.

My First Al-Quran : The Bridge Between Chiildren and Qur’an

Tentu saja, laksana kesembilan masalah tersebut laksana  benang kusut yang menyeruak dari dunia perbukuan kita. Namun, dengan semangat jihad peradaban segenap jajaran pengurus IKAPI Jabar bertekad untuk mengatasinya. Tidak muluk-muluk, paling tidak sedikit bisa mengurai benang kusut sudah lah bahagia. Apalagi jika kemudian mampu menenunkannya sehingga menjadi sehelai kain peradaban yang indah. Alangkah bersyukurnya kami. Kesanalah gerak dan ghirah segenap jajaran pengurus IKAPI Jawa Barat kini di arahkan.

Penulis : Mahpudi, MT. (Ketua IKAPI Daerah Jawa Barat)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>