Anak Saleh Lahir dari Orangtua Saleh

(1 customer review)

Booster Jiwa Agar Tetap Semangat Jadi Orangtua

Jaakallah Abah Ihsan. Berasa ful lagi baterainya, nih. Semangat..!” (Usri, Bandung). “Saya merinding bacanya, Allah menyelesaikan masalah saya lewat artikel Abah. Terima kasih.” (Titik Irna, Yogyakarta) “Mantap, Abah! Rata-rata remaja mengeluh tidak bisa bicara dengan orangtua mereka. Tulisan-tulisan ini bisa menjadi refleksi bagi kami yang sudah mempunyai anak remaja“. (Nizmah Nachrawi, Denpasar). ” Subhanallah. Sungguh pembelajaran yang harus bahkan wajib kita baca untuk menambah ilmu agar menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Insya Allah“. (Reny Afrianti, Bukittinggi). “Terima kasih banyak Abah atas tulisannya. Suami saya ikut membaca dan meneteskan air mata. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik.” (Mia Adsa, Martapura).

Rp62,000.00

Book Details

Pages

166 Halaman

Publisher

Singabangsa Pustaka & Tangga Pustaka

Language

Indonesia

Released

2018

ISBN

978-979-083-153-7

Contributor

Rohmat Kurnia (Editor), T. Widyanto & Enang Supriatna (Desain & Layout)

Dimension

19 x 24 cm

About The Author

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Fasilitator Pendidikan Orangtua di 28 Provinsi dan lebih dari 100 Kota di Indonesia. Sejak 2005 mendirikan Auladi Parenting School, lembaga yang menyelenggarakan pendidikan-pendidikan orangtua, berupa kursus-kursus terpadu tentnag keorangtuaan. Pelatihan orangtua dibuatnya lebih menyenangkan, praktis, dan tidak terlalu teoritis sehingga mudah dipraktikkan oleh banyak orangtua di Indonesia. Siapapun yang rajin ikut program parenting akan merasakan pengalaman berbeda ketika mengikuti program yang diselenggarakannya.

Ayah, Ibu…Setiap anak yang diturunkan ke dunia lahir dalam keadaan fitrah, bukan? “Kullu mauluudin yuladu alal fitrah. Faawabahu.” Setiap anak lahir dengan fitrah, bergantung orangtuanya bagaimana dia dibentuk. Karena anak lahir dengan fitrah, bukankah berarti tidak satu pun anak ketika lahir berniat menghancurkan masa depannya? Tidak ada satu pun bayi ketika lahir berniat,…. “Ah, jika besar nanti, aku mau kena narkoba.” “Ah, jika besar nanti, aku akan hobi tawuran atau kebut-kebutan.” Atau, pernahkah dia berkata, “Jika besar nanti, aku akan mencuri uang orangtuaku.” “Ah, jika besar nanti, aku mau membangkang kepada ayah dan ibu.” Adakah anak yang berniat seperti itu, Ayah? Bukankah berarti setiap anak yang diturunkan Allah ke dunia justru pada awalnya cenderung pada kebaikan? Namun, mengapa sebagian anak-anak ini yang lahir cantik, rupawan, lucu, dan menggemaskan setelah dia beranjak remaja dan dewasa justru menjadi beban keluarga dan menjadi masalah untuk lingkungannya? Ada apa ini…

Ayah, Ibu…Karena anak lahir dengan fitrah. Sebagian perilaku negatif anak, justru orangtualah penyebabnya. Periksalah, ternyata sebagian anak justru dijatuhkan harga dirinya di rumah, bukan di luar rumah. Sebagian kita mungkin pernah memukul tubuhnya, seolah tubuh anak adalah barang pelampiasan amarah. Sebagian kita mungkin pernah menampar pipinya, seolah dia tempat empuk bagi telapak tangan kita. Sebagian kita mungkin pernah membentaknya, sambil berteriak dalam hati, “Akulahyang berkuasa atas dirimu!” Atau, mungkin kita tak pernah melakukan semua itu? Namun, tahukah Ayah dan Ibu, sebagian anak memang tak pernah dipukul, tak pernah dicubit, tak pernah dibentak. Namun, jarang sekali ada anak yang lolos untuk tidak disalahkan orangtua. Mulai saat membuka mata di pagi hari sampai kembali menutup mata di malam hari.

Ayah, Ibu…Karena sebagian anak jatuh harga dirinya di rumah tanpa kita sadari, ada sebagian anak yang takbetah berada di samping orangtuanya. Panas hatinya jika mendengar “ceramah-ceramah” orangtuanya. Overdosis nasihat yang dia terima. Lalu, kapankah kita mendengarkan anak? Ketika seorang kakak hendak mengambil mainan miliknya yang diambil adiknya. Kita, dengan kekuatan kehakiman yang kita miliki, dengan gagah berkata, “Kakak, ngalah dong sama Adik!”

Lihatlah pertunjukan ini, Ayah…. Lihatlah, ketidak-adilan ternyata dimulai dari rumah. Lihatlah, kebenaran ternyata ditentukan oleh faktor usia. Lalu, kita berdalil, “Adiknya, kan masih kecil.” Dalam hati si Kakak berkata, “Sampai kapan Adik akan dibela? Kapankah aku meminta lebih dahulu dilahirkan ke dunia? Sungguh, tak enak jadi seorang kakak.” Karena ketidakadilan dimulai dari rumah, di tempat lain sebagian adik pun berkata hal yang sama, “Sungguh, aku pun tidak suka jadi seorang adik. Ketika ayah dan ibu tidak ada, aku sering dikerjai kakak semuanya.”

Ayah, Ibu…karena sebagian anak dijatuhkan harga dirinya di rumah, sebagian anak akhirnya tidak betah berada di rumah. Rumah baginya hanyalah tempat tidur sementara. Dia lalu mencari harga diri, berkelana mencari surga, mencari orang-orang yang akan menghargai dirinya. Wah, ternyata teman-teman gank-nya bisa menghargainya. Lalu, dalam hati dia berkata, “Hmm… ternyata aku dihargai jika aku pamer perkasa.” “Aku ternyata perkasa jika mengisap ganja.” “Aku gembira jika bisa menyusahkan siapa saja…” Lalu, kita pun bersumpah serapah, “Lingkungan rusak! Mereka merenggut anak-anakku!” Apakah itu yang ingin kita inginkan Ayah, Ibu? Jika tidak, hormatilah jiwa anak-anak kita. Bukan sekadar uang, jajanan, mainan, dan sekolah mahal semata. Itu semua penting, tetapi perkataan dan perlakuan penuh cinta dari Anda adalah warisan terindah untuk masa depan mereka.

1 review for Anak Saleh Lahir dari Orangtua Saleh

  1. Ikapi Jabar

    sungguh menginspirasi dan membuat kami sebagai orangtua tetep semangat untuk bisa mendidik anak-anak kami

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *