Mr Midnight 01: Rumah Monster Gila – Monster Dalam Cermin Mahima

(1 customer review)

PADAMKAN SETIAP LAMPU, BERSIAPLAH DALAM KENGERIAN SAAT JAM BERDETAK PADA TENGAH MALAM DAN BULAN PURNAMA BERSINAR TERANG, ITULAH SAAT UNTUK MERASAKAN KETAKUTAN. Mr Midnight AKAN MENEMANIMU, DENGAN BAHAYA DAN TEROR YANG DUA KALI LEBIH MENYERAMKAN!

#TEROR 1: Leng, Charmaine, dan Kwan berubah menjadi tikus. Bagaimana mereka dapat melarikan diri dari Mr. diang dalam RUMAH MONSTER GILA?

#TEROR 2: Mahima dan teman-temannya membenci anak laki-laki. Namun, mereka juga benci terkurung di dalam cermin. Bagaimana mereka dapat bertahan hidup di tengah KENGERIAN DALAM CERMIN MAHlMA?

Rp18,900.00

Book Details

Pages

136 Halaman

Publisher

Genera Publishing

Language

Indonesia

Released

1999

ISBN

978-602-9395-00-6

Contributor

Sharen (Penerjemah), Dwiaty Noer Sofian (Editor), Tim (Proofreader), D.A. Muharam (Layouter), Mangosteen Designs (Desain)

About The Author

James Lee

James Lee

Jim Aitchison (lahir 1947), lebih dikenal dengan nama pena James Lee, adalah seorang penulis Australia. Lahir di Australia. Aitchison tinggal di Singapura sebagai penduduk tetap di sana sejak tahun 1983 hingga 2010. Sebelum menjadi penulis penuh waktu, Aitchison adalah pengisi suara, dan direktur kreatif biro iklan. Dia juga menerbitkan buku tentang bisnis dan periklanan.

Aku menggigil. Kami berada di pusat jajanan di pinggir pantai. Kulihat gumpalan awan hitam menggantung rendah di atas laut. Padahal, beberapa saat lalu, kami berenang dan bermain di bawah sengatan matahari. “Sebentar lagi hujan,” ujarku, ketika udara berubah dingin. “Cepat! Segera habiskan makananmu!” Kwan mendorong mangkuk buburnya. Dia adikku, yang selalu beradu pendapat dengan semua orang. “Aku tidak mau pulang,” erangnya. “Aku bosan kalau di rumah.” Kwan mirip denganku. Bedanya, aku dua belas tahun, sedangkan dia sepuluh tahun. Badanku kurus, sedangkan dia tidak. Adik perempuanku, Charmaine, mengangkat wajahnya. Dia sedang mengunyah rotinya. “Ini dia! serunya. “Permainan komputer ter­baruku. Charmaine berumur sembilan tahun. Dia sangat mirip Mum, dengan matanya yang besar dan rambutnya yang panjang. Semua orang mengatakan dia cantik. “Jangan bertengkar,” ucapku kepada mereka. Beginilah sulitnya menjadi anak sulung. Mum dan Dad terus menekankan kalau aku harus bertanggung jawab atas mereka. “Ayo! Kita harus segera pulang!”

Aku memimpin jalan ke pagar tempat kami menyandarkan sepeda kami. Kami membereskan handuk dan pakaian renang ke dalam keranjang sepeda. “Butuh waktu dua puluh menit untuk bisa sampai ke rumah,” aku memperkirakan. “Kuharap kita sudah sampai di rumah sebelum badai. ” “Leng, kita lewat jalan pintas saja!” Kwan menunjuk ke sebuah jalan yang mengarah ke hutan kecil di belakang pantai. Bukan hutan sungguhan. Hanya sekumpulan besar pohon dan semak di sebuah bukit kecil. Dan, aku yakin ada sebuah jalan besar di baliknya…. “Jangan!” protes Charmaine. “Siapa bilang jangan?” sahut Kwan. Aku berusaha mendamaikan keduanya. Dan, sebentar lagi, aku akan tahu kalau yang kulakukan itu adalah keputusan terburuk seumur hidupku! “Kwan benar. Kita bisa menghemat waktu sepuluh menit, ujarku. “Kalau tidak, kita harus mengayuh sepanjang parkiran mobil lagi. “Tapi, di sana terlihat menyeramkan! Charmaine terlihat sangat ketakutan. Aku merangkulnya agar dia tenang. “Apakah semua anak perempuan cengeng dan penakut?” ejek Kwan. Kalau saja aku mendengarkan Charmaine! “Ayo….” Kukayuh sepedaku di sepanjang jalan berbatu dan terus melaju menjauhi pantai. Awan tampak bergerak mendekat dan perahu-perahu telah menghilang di balik tirai hujan. Semakin kami mendekat ke pepohonan, pohon- pohon di sana tampak semakin besar. Kami tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Bahkan, sejujurnya, aku belum pernah melihat orang lain melewati jalan ini. Kami baru saja bergerak masuk ke dalam rimbun pepohonan ketika tetesan hujan pertama turun. Cipratan air hujan yang dingin menyengat kulitku yang masih panas karena terjemur matahari. “Kita bakal pulang dengan basah kuyup,” Kwan mulai mengeluh.

“Bukannya tadi kau mengeluh kepanasan saat di pantai,” kataku mengingatkannya. “Leng, ayo kita kembali dan menunggu di pusat jajanan saja,” Charmaine memohon. “Di sini sangat menakutkan!” “Tidak perlu khawatir,” sahutku. Kemudian, cuaca berubah cerah. Pusat jajanan di pantai terlihat hanya beberapa meter di belakang kami. Dan, di depan sana, sebuah jalan besar tampak jelas di balik pepohonan. Hal buruk apa yang akan terjadi, tanyaku kepada diri sendiri. Ah. pertanyaan konyol!

Jalanan yang kami lalui semakin sempit dan semakin gelap. Pepohonan semakin tinggi. Cabang- cabangnya terkulai seperti lengan-lengan besar. Tanaman merambat serta semak-semak yang kusut menutup pandangan kami dari segala sisi. Tidak terdengar suara apa pun. Tidak ada suara burung-burung. Tidak ada satu pun suara serangga. Hanya ada suara kayuhan sepeda kami di atas tanah yang berpasir. Hutan kecil ini seperti sedang menelan kami. Tapi, itu. kan, konyol…. Iya, kan? Tiba-tiba, jalanan menikung tajam. Dan, kami ‘melihat sebuah portal besar bercat merah dan putih menghalangi jalan yang sedang kami lalui. Cat portal itu sudah mengelupas dan terlihat berkarat. Ia menutupi dua buah jalur. Seseorang telah memasang tanda’pada portal tersebut:

BERBAHAYA. INI DAERAH KONSTRUKSI. DILARANG MELINTAS.”
Sepeda Kwan berderak dan berhenti. Charmaine menghentikan sepedanya di samping sepedaku. Kami bertiga menatap tulisan’itu. Berbahaya? Well, kami jelas-jelas telah diperingatkan!

1 review for Mr Midnight 01: Rumah Monster Gila – Monster Dalam Cermin Mahima

  1. Ikapi Jabar

    sereeeemmmmmm…….

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *