Mr Midnight 02: Kasus Jam Terkutuk – Malam Teror Hamburger

(1 customer review)

Teror #1: Bahaya terus berdetak! Seluruh dunia terancam! Mampukah Johnson Wee dan kedua kawannya mengungkap KASUS JAM TERKUTUK – tepat pada waktunya?

Teror #2: Bumi diserang makhluk hijau kejam dari planet lain! Akankah Elise dan kedua sahabatnya lolos dari kengerian MALAM TEROR HAMBURGER?

Rp18,900.00

Book Details

Pages

156 Halaman

Publisher

Genera Publishing

Language

Indonesia

Released

1999

ISBN

978-602-9395-01-3

Contributor

Dwiaty Noer Sofian (Penerjemah), Anisa Ami (Editor), Tim (Proofreader), D.A. Muharam (Layouter), Mangosteen Designs (Desain)

About The Author

James Lee

James Lee

Jim Aitchison (lahir 1947), lebih dikenal dengan nama pena James Lee, adalah seorang penulis Australia. Lahir di Australia. Aitchison tinggal di Singapura sebagai penduduk tetap di sana sejak tahun 1983 hingga 2010. Sebelum menjadi penulis penuh waktu, Aitchison adalah pengisi suara, dan direktur kreatif biro iklan. Dia juga menerbitkan buku tentang bisnis dan periklanan.

“Johnson Wee, D. Pribadi.”
Itu yang akan tertulis dalam kartu namaku. Kalau kau penasaran, huruf “D” di sana berarti ‘Detektif’.
Aku akan menjadi detektif pribadi terbaik di kota ini. Aku tahu, aku baru berumur dua belas tahun sekarang. Tetapi, bukankah dalam hidup ini kita harus punya cita-cita?
Aku belum mengatakan pada Mum dan Dad soal cita-citaku ini. Dad ingin aku menjadi seorang dokter atau seorang eksekutif atau semacamnya dan mengendarai Mercedes.
Adik laki-lakiku, Aloysius, punya pendapat sendiri. Menurutnya, “Di dalam kartuku bukan berarti Detektif’, melainkan ‘Dungu’. Tetapi, apa yang bisa kauharapkan dari anak nakal seperti dia?
Aku membayangkan, nanti aku akan punya kantor yang keren, dengan sebuah meja besar tempatku bisa meletakkan kedua kakiku. Lalu, Samantha Leong, yang setingkat denganku di Secondary One , akan menjadi sekretarisku. Sekarang saja, dia sudah s-a-n-g-a-t keren. Lalu, mau jadi apa lagi? Penerima tamu aneh untuk seorang dokter gigi yang juga aneh?
Faktanya, dalam dunia detektif, tidak ada istilah terlalu dini untuk memulai kariermu. Seperti yang kulakukan sekarang. Aku selalu menyelidik, memantau, dan membuat catatan. Segala hal yang menjadi lingkup kerja para detektif, kalau kuceritakan, dijamin bisa membuat rambutmu keriting.
Dengan kemampuan yang kumiliki ini, aku bisa menunjukkan kepadamu wanita mana yang suka mencuri bunga dan siapa pria tua yang membuang sampah lewat lift.
Tetapi, itu hanya kasus-kasus cetek. Kasus yang sebenarnya ada di pasar. Apa yang terjadi di sana sungguh, wow! Para polisi seharusnya terlibat di sana. Tetapi, mungkin mereka terlalu sibuk. Dan, aku yang akan turun tangan, memberi mereka bantuan agar mereka bisa beristirahat.
Jadi, aku pergi ke pasar setiap pagi saat libur sekolah. Mengecek segala hal, sebagai kegiatan rutin. Aku biasanya duduk di halte bus, di seberang jalan sebuah restoran yang menjual nasi ayam. Aku bisa melihat orang-orang yang ada di restoran, tapi mereka tidak bisa melihatku.
Pada suatu hari, saat aku berada di sana, seorang pria tua bernama Ah Pek keluar dari arah restoran tersebut. Wajahnya terlihat seolah baru saja dibelah dari batang pohon, banyak bekas luka, begitu tegas. Dengannya yang penuh tato membuatnya tidak akan bisa menambahkan tato apa pun lagi di sana. Aku sudah bisa menebak kalau dia seseorang yang patut dicurigai.
Pria tua itu muncul dari arah belakang restoran dengan membawa” sebuah bungkusan. Dia memandang ke sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Dia lalu berjalan ke sebuah keranjang besar, tempat pembuangan buah-buah busuk. Lalu, bungkusan yang dibawanya, dia benamkan ke dalam keranjang itu.
Pria itu kemudian berlalu, setelah sebelumnya yakin bahwa yang dikerjakannya tidak diketahui orang lain.
Johnson Wee, aku berkata pada diriku sendiri, biasanya kau cuma bisa bicara. Kini saatnya memperlihatkan kalau kau juga bisa beraksi!
Aku segera beranjak dari tempat dudukku dengan sangat tenang. Berusaha untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba. Kemudian aku menyeberang, mengulur waktu, tampil normal, dan akhirnya sampai di depan keranjang. Bau busuk buah- buahan dalam keranjang menyengat hidungku. Aku penasaran apa saja yang ada di dalamnya sampai bisa sebusuk itu. Aku memeriksa jalan. Ah Pek telah pergi.
Langkahku selanjutnya adalah berpura-pura menjatuhkan pensilku ke dalam keranjang. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikiran kalau aku anak malang yang tengah kehilangan pensilnya. Kemudian, aku memasukkan tanganku ke dalam keranjang, mencoba mengambilnya. Aku mendorong tanganku sedalam mungkin sampai menyentuh daun selada berlendir dan kulit durian busuk. Iiih! Seharusnya ada yang melaporkan hal menjijikkan ini!
Lalu, aku mulai bisa menyentuhnya! Bungkusan Ah Pek tadi. Bungkusan itu basah dan lengket. Aku menariknya, menyembunyikannya di balik lenganku, dan berlalu. Sangat cerdik, bukan? Keliru. Justru itu tindakan yang sangat bodoh. Aku melupakan pensilku.
Dan, bukan hanya itu.
Kalau saja aku lebih berhati-hati.
Aku mungkin sudah melihat mereka.
Melihat siapa?
Aku tidak tahu, tapi mereka memperhatikanku.
Mereka memperhatikan setiap gerakan yang kulakukan!

1 review for Mr Midnight 02: Kasus Jam Terkutuk – Malam Teror Hamburger

  1. Ikapi Jabar

    bener-bener tidak ketebak sampai akhir…

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *