Mr Midnight 03: Perjalanan Tak Berujung – Pembalasan Monster Ikan

(1 customer review)

Teror #1: Eugene, Azizul, dan Samantha menaiki bus yang membawa mereka ke sebuah PERJALANAN TANPA UJUNG. Bisakah mereka selamat dan kembali?

Teror #2: Ikan mas baru Bryan Lim bertingkah aneh! Saat ia dan teman-temannya terperangkap dalam akuarium, adakah yang bisa mencegah PEMBALASAN MONSTER IKAN?

Rp18,900.00

Book Details

Pages

165 Halaman

Publisher

Genera Publishing

Language

Indonesia

Released

1999

ISBN

978-602-9395-02-0

Contributor

Namira Tjajapermana (Penerjemah), Dwiaty Noer Sofian (Editor), Tim (Proofreader), Mangosteen Designs (Layouter), Mangosteen Designs (Desain)

About The Author

James Lee

James Lee

Jim Aitchison (lahir 1947), lebih dikenal dengan nama pena James Lee, adalah seorang penulis Australia. Lahir di Australia. Aitchison tinggal di Singapura sebagai penduduk tetap di sana sejak tahun 1983 hingga 2010. Sebelum menjadi penulis penuh waktu, Aitchison adalah pengisi suara, dan direktur kreatif biro iklan. Dia juga menerbitkan buku tentang bisnis dan periklanan.

Menurut kalian, angka “8 itu angka keberuntungan?
Hah!
D.ui. kalian kira “888 ‘ berarti tiga-kali lebih lebih beruntung?
Hah! Hah! Hah!
Kuberi tahu, ya. Namaku Eugene Guo. Aku dan temanku, Azizul Kamal Shah, dengan sangat yakin berpendapat kalau “888’ bukanlah angka keberuntungan bagi kami. Kenapa? Karena “888” adalah nomor bus sekolah kami.
Bus paling mengerikan sepanjang sejarah!
Kisah menakutkan itu dimulai pada suatu pagi. Ketika kami berlari menuruni tangga dalam perjalanan ke sokolah. Seperti biasa, kami terlambat. Namun. Azizul lebih terlambat dariku. Kami bisa melihat bus sekolah kami semakin mendekat. Tetapi, seorang ibu-ibu gemuk menghalangi jalan kami. Jika kami sampai ketinggalan bus, Mum tidak akan mengizinkanku menonton TV selama seminggu.
Seandainya saja, aku tahu yang akan terjadi hari itu. Seandainya saja, kami ketinggalan bus itu. Kami bisa menyelamatkan diri kami dari begitu banyak kengerian, teror, dan bahaya!
Aku melompati trotoar dan berlari melintasi rumput yang basah karena hujan semalam. Setiap langkahku membuat sepatu baruku semakin tenggelam ke dalam lumpur. Pyak, pyak, pyak.Dengan cepat, keduanya menjadi dekil berselimut lumpur.
Azizul lebih cerdik dariku. Dia menyalip ibu-ibu gemuk itu dan berlari sepanjang trotoar.
Kami tiba di halte bus tepat pada waktunya. Pintu bus itu terbuka. Kami memanjat masuk dengan terengah-engah.
Dan, pada saat itulah, aku menyadari keganjilan menggelikan pertamal Bus itu kosong. Hanya ada aku, Azizul, dan sopir bus itu. Tak ada orang lain lagi di dalamnya. Ke mana semua teman kami? Lim Chee Siong? Mohamad Adib? Adam Teo? Ke mana mereka semua…?
“Azizul, apa hari ini libur?” tanyaku.
“Tidak, gelengnya, tampak terkesima melihat
semua kursi kosong itu. “Hari ini tidak libur.
Ketika bus mulai bergerak, kami berjalan ke tempat kami biasa duduk, yaitu di deretan kursi paling belakang, Aku menoleh ke bagian depan bus, dan pada saat itulah aku menyadari keganjilan yang menggelikan kedua!
Sopirnya berbeda. Dia bukan sopir yang biasanya. Sopir yang ini berambut keriting. Rambutnya juga berwarna. Oranye seperti jeruk. Wajahnya dipenuhi lubang-lubang bekas jerawat. Hidungnya tampak tajam. Persis seperti kapak!
“Supirnya,” bisikku pada Azizul. “Aku tahu dia siapa. Si Tukang Jagal.”
Azizul memucat. “T-t-tukang jagal?”
Bukan penjagal manusia,” cibirku, lalu duduk. “Dia tukang jagal ayam. Aku pernah melihatnya di pasar. Dia sedang memotong kepala ayam.”
Pada saat itu, ketika bus terus melaju, aku menyadari keganjilan ketiga.
Hanya saja, yang ini tidak terasa menggelikan.
Justru. menakutkan.
BUS ITU TIDAK SEDANG MENUJU SEKOLAH!
Azizul juga menyadarinya. Kakinya gemetaran, dan dia memasang tas sekolahnya di dada layaknya sebuah tameng.
“Hey. kita akan dibawa ke mana? Pasti ada yang salah!” serunya. “Lihat! Semuanya hilang!
Aku melihat ke luar jendela. Seharusnya, di luar sana, kami melihat hal-hal yang biasa kami lihat. Apartemen dan rumah-rumah, pusat perbelanjaan bank di satu sudut, kantor pos, pasar, lapangan parkir. Tapi, sekarang, segalanya HILANG!
Kami seolah-olah sedang melaju di dalam kabut
Mata Azizul melebar karena ketakutan. Aku mau turun!’
“Jangan! aku memegangi lengannya. “Kita akan terlambat ke sekolah.”
Dia menatapku dengan pandangan tak percaya. “Apa menurutmu bus ini sedang menuju sekolah?”
” Well. tapi pasti menuju ke suatu tempati” seruku, mencoba menutupi kegusaranku.
Aku mengelap salah satu jendela bus dengan tanganku. Kupikir, mungkin segalanya tampak hilang karena pendingin udara dalam bus membuat kacanya berkabut. Tetapi, tak ada yang berubah! Yang kulihat di luar tetap awan-awan kelabu yang berputar-putar.
“Apakah kita masih di tanah atau sudah melayang di udara? candaku, walaupun sama sekali tidak menganggap itu lucu.
Azizul sudah berdiri. “Aku akan turun. Kau boleh tinggal kalau kau mau! ‘
“Aku tidak mau, gumamku dan mulai menekan bel.
DING DONG … DING DONG … DING DONG….
Namun, lampu merah bertuliskan STOP itu tidak juga menyala. Si Penjagal Ayam tetap menyetir. Hanya ada bagian belakang kepalanya yang oranye dan kabut kelabu yang lampak di depan bus. Tak ada yang lain!
Aku bisa merasakan hawa dingin menjalari leher dan tanganku.
“Ke-ke-ke mana dia akan membawa kita?’ Azizul ingin tahu.
“Bagaimana aku tahu?” ujarku menelan ludah.
“Dia tidak akan berhenti!” teriak Azizul.
Aku menekan bel lagi. “Dia harus menghentikan bus ini!” ujarku marah.
DING DONG … DING DONG … DING DONG….
Tak ada yang terjadi. Bus ini terus melaju. Leherku Hiuku ini ekik teror dan rasa takut.
“Mungkin, suara bel itu kurang kencang, ujarku. “Mungkin – mungkin, dia tuli. Mungkin, seekor ayam telah memotong telinganya! aku bercanda lagi.
“Luuu-cuuu!” Azizul menatapku sinis. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?
Aku tahu! “Kita lompat saja di lampu merah pertama,”. usulku. “Bus ini pasti berhenti saat lampu
merah, kan?
‘”LAMPU APA???” teriak Azizul.
Dia benar! Dalam kabut kelabu itu. mana ada lampu merah?
Lalu, di mana jalan, trotoar, dan lampu-lampu itu?
Rasanya kami seperti melangkah keluar dari dunia kami, menuju dunia lain, sebuah dunia kelabu, hanya aku, Azizul, dan Si Penjagal Ayam.
Kami terus melaju dalam sebuah bus kosong, tanpa tujuan….

1 review for Mr Midnight 03: Perjalanan Tak Berujung – Pembalasan Monster Ikan

  1. Ikapi Jabar

    ngeri naik bis sekolah kalo gitu…

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *