Mr Midnight 04: Komputerku Kerasukan! – Foto Berhantu

(1 customer review)

Teror #1: Makhluk menyeramkan dalam komputer Ashraf berniat mengendalikan hidupnya. Bagaimana Ting Xuan dan Hafiz menyelamatkan Ashraf saat KOMPUTERKU KERASUKAN?

Teror #2: Perlyn dan Jamie punya FOTO BERHANTU! Mereka harus segera lari dari kekuasaan Angelina, atau terperangkap dalam dunia hantu selamanya!

Rp18,900.00

Book Details

Pages

144 Halaman

Publisher

Genera Publishing

Language

Indonesia

Released

1999

ISBN

978-602-9395-03-7

Contributor

Zadika Alexander (Penerjemah), Namira Tjajapernama (Editor), Tim (Proofreader), D.A. Muharam (Layouter), Mangosteen Designs (Desain)

About The Author

James Lee

James Lee

Jim Aitchison (lahir 1947), lebih dikenal dengan nama pena James Lee, adalah seorang penulis Australia. Lahir di Australia. Aitchison tinggal di Singapura sebagai penduduk tetap di sana sejak tahun 1983 hingga 2010. Sebelum menjadi penulis penuh waktu, Aitchison adalah pengisi suara, dan direktur kreatif biro iklan. Dia juga menerbitkan buku tentang bisnis dan periklanan.

“AKU TIDAK AKAN MENYERAH!”
Namaku Ashraf. Aku sedang bermain X-Men bersama adikku, Hafizuddin. Aku biasa memanggilnya Hafiz. Aku selalu mengalahkannya karena aku hafal semua jurus rahasia dari semua karakter, sementara Hafiz bahkan tidak tahu bagaimana memunculkan satu pun jurus rahasia!
“Ini tidak adil, tidak adil!’ teriak Hafiz kepadaku sambil memukul meja.
Aku tertawa. Begitupun temanku, Ting Xuan, .ang tinggal di sebelah rumah kayu.
“Ashraf pasti selalu menang! TX menggoda Hafiz.
“Iya, dia selalu begitu!” protes Hafiz sambil menuding layar komputer. “Komputer ini jelek!
GRRRRRRRRRAK!
Kami melompat mendengar bunyi aneh yang berasal dari komputfer itu. Benda itu seolah-olah menjawab hinaan Hafiz!
“Apa itu?” TX bertanya sambil melirik layar komputer.
“Tidak tahu…,” gelengku.
Tiba-tiba, layar komputer itu bertingkah aneh. Di sana, muncul garis-garis bergelombang yang bersinar terang. Karakter-karakter X-Men yang sedang kami mainkan bergoyang-goyang.
“Benar, kan, yang kubilang!’ teriak Hafiz. “Komputer ini jelek! ” KUAAAAAAK!
“Apa yang terjadi?” Aku berdiri. Ada apa dengan komputerku? Kenapa muncul bunyi-bunyi aneh seperti itu?
Tiba-tiba, layar komputer itu berubah gelap. Benar-benar gelap!
“Cepat! seru TX. “Tekan tombol reset!”
Aku menurut. Ketika aku hendak menekan tombol itu, layar komputer kembali menyala. Namun, karakter-karakter X-Men yang tadi kami mainkan menghilang dan tergantikan oleh bentuk-bentuk lain. Kami membeku ketika bentuk-bentuk itu menjelma
menjadi sebuah huruf.
T….
“Wah! Komputernya mau mengeja namamu, TX! teriak Hafiz.
Salah! Huruf berikutnya muncul dengan kilatan beberapa warna…. O….
“Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?” TX berbisik.
Aku menggelengkan kepala, mataku terpaku ke layar komputer. Empat huruf berikutnya keluar memenuhi layar….
L…. O… N…G….
“Tolong…,” TX membacanya keras-keras. “Tolong? Tolong siapa? Tolong apa?”
“Aku tidak tahu,” aku mengangkat bahu. “Ini bukan bagian dari game X-Men tadi, kan?”
“Ini tidak masuk akal,” TX kebingungan.
“Itu pasti sebuah pesan.” ucap Hafiz. Matanya bersinar-sinar penuh gairah. “Seseorang sedang berusaha untuk menghubungi kita!”
“Jangan konyol,” ucap TX pada Hafiz. “Komputer ini tidak terhubung ke internet. Tidak ada yang bisa
menghubungi kita!’
“Tapi, bagaimana kalau benar? Hafiz tidak mau kalah. “Bagaimana … bagaimana kalau pesan itu berasal … dari dunia laini?”
“Kau terlalu banyak menonton film horor!” ejek TX.
“Tidak, ah!” Hafiz berusaha meninjunya.
“Sepertinya, komputer ini rusak,” gerutuku. “Sebaiknya, aku bertanya pada Dad. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan….”
TX terus memperhatikan kata di layar komputer. “Bagaimana kalau komputer ini, ternyata, sedang berusaha memberi tahu kita kalau ia perlu diperbaiki? Mungkin ada sesuatu yang rusak di dalam sana.”
“Menurutku, ini pesan dari seseorang,” Hafiz bersikeras. “Mungkin, ada sedang butuh pertolongan.”
Aku tak mengacuhkannya. Terkadang, imajinasi adikku itu membuatku gila! “Sebaiknya, kita mematikan komputer ini. Untuk berjaga-jaga saja.’ ucapku. “Jika komputer ini memang rusak, kita tentu tidak ingin kerusakannya semakin parah.’
Jadi, aku mematikan komputer itu dan berbalik menatap mereka.
“Selesai….’
Tapi, mereka tidak menatapku. Mata mereka membelalak ketakutan.
“Ashraf…,” TX berbisik, “lihat….”
Aku berbalik menatap komputer.
Napasku tertahan.
Aku tidak bisa memercayai penglihatanku.
Ini mustahil!
Komputerku kembali menyala.
Padahal, aku baru saja mematikannya, tapi komputer itu masih menyala.
Dan, kata “TOLONG” itu masih tertera di layar.
Bedanya, sekarang kata itu berkedip-kedip….
“TOLONG..,.”
“TOLONG….”
“TOLONG….”
“TOLONG….”
Hafiz mencengkeram tanganku. “Kubilang juga .ipa! Aku bilang apa! ” teriak Hafiz. “Seseorang telah mengirimi kita pesan! Apa yang akan kita lakukan sekarang…?”

1 review for Mr Midnight 04: Komputerku Kerasukan! – Foto Berhantu

  1. Ikapi Jabar

    main komputer malem-malem, bisa sereeemmm gini….

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *