Mr Midnight 07: Jangan Datang Ke Lantai 13! – Sepatuku Menggila

(1 customer review)

Teror #1: JANGAN DATANG KE LANTAI 13! Natasha bersama kakak laki- laki dan ketiga temannya terperangkap di sebuah dunia misterius di lantai 13. Bisakah mereka lari dari orang-orang mengerikan yang telah menahan mereka?

Teror #2: Sepatu baru Ho Kit bisa membuatnya berjalan di dinding. Dia berada di bawah kekuasaan jahat dan tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya. Jangan lewatkan halaman-halaman penuh teriakan sekaligus menegangkan dalam SEPATUKU MENGGILA!

Rp18,900.00

Book Details

Pages

154 Halaman

Publisher

Genera Publishing

Language

Indonesia

Released

2012

ISBN

978-602-9395-06-8

Contributor

Dwiaty Noer Sofian (Penerjemah), Anisa Ami (Editor), Tim (Proofreader), D.A. Muharam (Layouter), Mangosteen Designs (Desain)

About The Author

James Lee

James Lee

Jim Aitchison (lahir 1947), lebih dikenal dengan nama pena James Lee, adalah seorang penulis Australia. Lahir di Australia. Aitchison tinggal di Singapura sebagai penduduk tetap di sana sejak tahun 1983 hingga 2010. Sebelum menjadi penulis penuh waktu, Aitchison adalah pengisi suara, dan direktur kreatif biro iklan. Dia juga menerbitkan buku tentang bisnis dan periklanan.

“Cepat, Zach!” aku berteriak pada kakak laki- lakiku. “Mum akan ngomel lagi kalau kita terlambat pulang untuk makan malam!”
Zach sedang mengobrol dengan seorang temannya. Bodoh, aku bergumam saat melihatnya terus mengobrol tanpa menghiraukan teriakanku.
Maaf, aku lupa memperkenalkan diriku sendiri. Hai, namaku Natasha Chan, umurku sepuluh tahun. Kakakku, Zach, tiga tahun lebih tua dariku.
Kalian jangan salah sangka. Aku sangat menyayangi kakakku itu, meskipun kadang dia suka bertindak bodoh! Kalian tidak percaya? Well, saat selesai mengobrol dengan temannya pun, dia tidak langsung bergegas. Dia hanya melangkah santai menghampiriku.
“Hei, Tash, kau tak perlu berteriak sekencang itu
tadi,” dia nyengir, “kedengaran, kok.”
“Well, apa kau menghiraukannya?” tanyaku ngotot.
“Itu karena aku sedang sibuk.”
Dia mulai melangkahkan kakinya ke arah rumah kami. Aku fiSrus berlari untuk bisa menyamai langkahnya.
“Mungkin kalau kau punya pendengaran yang lebih baik, kita bisa sampai ke rumah lebih cepat,” aku menggerutu sendiri.
Dia mengibas-ngibaskan tangannya. “Apa yang tadi kauhilang?”
“Tidak apa-apa,” jawabku manis, memperlihatkan senyuman dengan gigi-gigi yang bergeretak. Dasar cowok, ucapku pada diri sendiri, mereka semua sama saja. Kalian tidak akan pernah bisa menang dari mereka. Setiap mereka berbuat kesalahan, mereka akan membuatnya seolah itu salahmu, bukan salah mereka!
Kami berjalan melintasi taman dan akhirnya sampai ke bangunan apartemen kami.
“Hei, liftnya sudah berfungsi lagi!” aku menunjuk ke arah lift yang tengah menunggu. Pintunya terbuka.
Sejak dua hari yang lalu, lift di apartemen kami rusak. Selama dua hari kemarin, kami turun- naik dari lantai enam — itu sama sekali TIDAK MENYENANGKAN! Tapi kini tanda peringatan bahwa lift itu rusak sudah tidak ada dan lift itu sudah bisa digunakan kembali. Well, aku tidak terlalu bermasalah saat harus turun pakai tangga, meskipun selalu merasa pusing, jauh sebelum aku sampai ke bawah. Yang PALING tidak kusuka adalah saat harus naik. Saat berhasil mencapai pintu depan apartemenku, rasanya aku sudah mati kehabisan napas!
“Tentu saja liftnya berfungsi, Bodoh,” ucap Zach, melangkahkan kakinya ke dalam lift. “Tadi pagi kulihat seorang tukang reparasi ke sini.”
Aku mengikutinya masuk ke dalam lift, sambil berpikir kenapa dia untuk sekali ini tidak berkelakuan seperti orang bodoh!
Bagaimana aku tahu kalau kami sedang dalam BAHAYA…!
Kalau saja kami tadi naik TANGGA saja…!
Itu mungkin akan menyelamatkan kami dari sekian banyak KENGERIAN…!
Aku bermaksud akan menekan tombol lantai enam, tapi kemudian terdiam, jari-jariku tertahan di udara.
TIDAK ADA….
Tidak ada tombol lantai enam. Bahkan, tidak ada tombol lantai lain pun di sana…. HANYA ADA SATU TOMBOL…. DAN DI SANA TERTERA ANGKA 13….
“Zach, ada yang aneh!” ujarku padanya. “Apa kita salah masuk lift?”
Dia memberi tatapan yang menyiratkan kalau para cewek itu bodoh.
“Kaulihat saja sendiri,” bentakku. “Semua tombolnya hilang. Hanya ada satu tombol dan itu menuju lantai 13, tapi seingatku apartemen kita ini tidak punya lantai ketiga belas, kan?”
j “Kau ngomong apa, sih, Tash?” dia melihat dinding lift tempat biasanya tombol-tombol berada. “Lalu apa masalahnya? Kau, kan, tidak perlu kebingungan seperti itu,” ujarnya, lalu menekan tombol berangka 13 itu.
“Tapi, Zach, itu, kan, bukan lantai apartemen kita!” teriakku. Lalu aku teringat, itu bahkan bukan lantai apartemen SIAPA PUN!
“Kalau begitu, kita cari tahu ada apa di lantai tiga belas,” dia tertawa. “Cewek-cewek memang selalu TAKUT pada apa pun.”
Aku harus keluar!
Masih ada cukup waktu!
Pintu lift mulai menutup, tapi aku bisa menyusup melewatinya!
Tapi aku tidak bergerak. Aku terlalu sibuk memikirkan betapa bodohnya kakakku itu!
Dan TERLAMBAT. Pintu lift kini tertutup rapat dan terdengar suara mesinnya menyala. Kami bergerak naik dan terus naik. Jantungku terasa ikut-ikutan naik ke mulutku. Aku berusaha untuk tidak terlihat gemetaran saking takutnya. Ada yang salah, aku yakin itu!
Bagaimana mungkin lift itu HANYA PUNYA SATU TOMBOL…?
Dan kenapa yang tertera di sana harus ANGKA SIAL 13…?
Rasanya kami akan terus berada di dalam lift ini selamanya, karena lift ini terus naik … dan naik … dan
NAIK….
Tiba-tiba, liftnya mendadak berhenti. Aku bersiap untuk berlari keluar. Aku tidak peduli apa pendapat Zach. Aku cuma ingin segera KELUAR…!
Pintu lift perlahan terbuka, sangat perlahan, dan aku menjerit pelan.
Pemandangan yang menyambut kami membuatku membeku ketakutan. Yang kulihat hanya cahaya menyilaukan dan membutakan mata. Hanya itu yang kulihat — CAHAYA PUTIH MENYILAUKAN…! Tidak ada yang lain di sana, hanya cahaya putih itu. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.
Aku dicengkeram kepanikan.
Aku tidak tahu HARUS BERBUAT APA….
Aku tidak mengerti APA YANG SEDANG TERJADI….
Dan yang terburuk….
Aku bahkan tidak tahu DI MANA KAMI SEKARANG…!

1 review for Mr Midnight 07: Jangan Datang Ke Lantai 13! – Sepatuku Menggila

  1. Ikapi Jabar

    angka 13 selalu jadi kambing hitam….sereeemmm…

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *