Titik Balik Ustaz Evie Effendie: Reborn Dengan Hijrah

(1 customer review)

Banyak yang bertanya siapa saya. Mengapa saya, seorang Evie Effendie yang bukan siapa-siapa, bisa begitu populer dalam waktu yang singkat. Apa kelebihannya? Jujur saja, saya sendiri tidak tahu. Wallahu a’lam. Saya hanya seorang manusia yang memiliki masa lalu kelam yang berusaha menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan.

Dengan hadirnya kisah perjalanan hidup saya ini, bukan berarti saya sudah menjadi manusia hebat. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri dan merasa sudah menjadi manusia terbaik. Saya hanya ingin menunjukkan kepada semua orang yang masih berada dalam keragu-raguan bahwa hidayah Allah itu ada dan kita hanya tinggal menjemputnya.

Selamat menikmati sajian kalimat demi kalimat dalam buku ini. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menjadikan kita lebih baik.

 

Rp37,900.00

Categories: , Tags: , ,

Book Details

Pages

124 Halaman

Publisher

PT. Tangga Pustaka

Language

Indonesia

Released

2018

ISBN

978-979-083-159-9

Contributor

Dini Handayani Hasan (Editor), Muhammad Rizki Utama (Layouter)

Dimension

13 x 19 cm

About The Author

Ustadz Evie Effendie

Ustadz Evie Effendie

Da’i kelahiran Bandung 19 Januari 1976. Sosok penceramah yang sedang viral dan fenomenal dengan gayanya yang gaul, unik, nyentrik, dan inspiratif yang menjadi daya tarik dakwahnya, terutama untuk kalangan anak muda.

Puji syukur hanya milik-Nya. Kita pasti sepakat bahwa semua perkara berawal dan berasal dari sisi-Nya. Semua yang terjadi di muka bumi tak lepas dari genggaman-Nya. Jutaan sel dalam tubuh kita pun ada dalam kendali-Nya.  Setiap orang suci punya masa lalu. Orang berdosa seperti kita yang pekat dengan maksiat punya masa depan. Caranya? Dekati Dia yang yang Maha Membolak-balikkan Hati.

Hidup saya sangat berwarna. Walaupun dari kecil sudah belajar agama, tidak menjadikan saya otomatis menjadi manusia yang taat. Dalam perjalanan hidup, ada banyak godaan yang tidak mampu saya tahan. Saya pernah tergelincir, bahkan sampai terjungkal. Banyak orang yang sudah saya kecewakan, Mamah, Bapak, istri, bahkan anak-anak saya.

Sebagai anak yang paling besar, saya mendapatkan perhatian yang paling banyak dari orangtua. Sejak kecil, Bapak sering mengajak ke masjid dan Mamah selalu menanamkan nasihat dan kebaikan melalui dongeng-dongengnya. Beranjak remaja, hidup saya masih lurus-lurus saja, walaupun kondisi ekonomi keluarga jauh dari kata cukup, tetapi kami tetap bersyukur.  Memasuki masa dewasa, saya yang awalnya memiliki lingkungan yang homogen, lingkungan orang-orang baik yang pandai mengaji, mulai mengenal lingkungan lain. Hal ini bermula saat saya menjadi tukang ojek untuk meringankan beban orangtua. Banyak kawan baru yang saya kenal. Kebanyakan dari mereka adalah preman. Saya melihat, kok sepertinya hidup mereka enak, ya. Tidak ada beban, bisa berbuat semaunya.

Kekaguman yang salah inilah yang pada akhirnya membawa saya bergaul lebih dalam dengan dunia mereka, salah satunya dunia malam. Perlahan tapi pasti saya terjebak semakin dalam. Tempat karaoke dan hiburan malam akhirnya menjadi hal yang lazim saya kunjungi. Tentu saja, di sana saya tidak hanya meminum air mineral, tetapi sudah mulai mengenal bir dan beragam jenis minuman keras lain.

Satu apel yang bagus jika disimpan bersama banyak apel yang busuk, lama kelamaan akan membusuk juga. Itulah yang terjadi dengan saya. Awalnya, saya yakin akan mampu menangkis godaan-godaan tersebut karena saya lulusan pesantren. Namun, ternyata terlalu lama bergaul dengan orang-orang yang salah membuat saya melakukan banyak perilaku salah juga. Tak jarang demi kesetiakawanan saya terlibat perang antargeng. Saya maju paling depan dengan keyakinan kawan-kawan pasti mem-back up dari belakang.

Akhir petualangan saya di dunia “mafia” ini adalah perceraian dan penjara. Saat di penjara itulah kehidupan saya berubah drastis. Saya mulai merenungkan buruknya perilaku saya selama ini. Inilah titik balik seorang Evie Effendi. Penjara mengubah saya sepenuhnya. Saya bersujud menangis dan mengadu sepuasnya. Memohon ampunan kepada Allah dan kepada orang-orang yang sudah merasa susah dengan perilaku saya.  Tentu saja perjalanan hidup saya belum berakhir. Menjadi orang yang populer seperti saat ini adalah bentuk ujian lain bagi saya dan keluarga. Semoga kami bisa selalu istiqamah menjalani cobaan ini.

Buku ini hadir dengan semangat berbagi. Dengan hadirnya kisah perjalanan hidup ini, bukan berarti saya sudah menjadi manusia hebat. Saya bukan siapa-siapa, euweuh nanaonan, lain sasaha. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri dan merasa sudah menjadi manusia terbaik. Saya hanya ingin membagikan sebuah kisah mengenai seorang anak manusia yang berusaha istiqamah dengan hijrahnya. Saya hanya ingin menunjukkan kepada semua orang yang masih berada dalam keragu-raguan bahwa hidayah Allah itu ada dan kita hanya tinggal menjemputnya.  Banyak yang merasa enggan melangkah karena malu dan merasa sudah terlanjur menjadi manusia yang hina. Bukankah dengan masa lalu yang kelam kita justru bisa belajar memilah mana yang benar dan salah? Ingatlah bahwa seekor kupu-kupu yang indah mulanya hanya ulat jijik yang membuat kita enggan menyentuhnya. Kini saatnya kita balikkan pemikiran tersebut dan yakinlah ada alasan mengapa Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bernapas, yaitu berarti Allah masih memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Sejatinya hidup adalah proses. Proses memperbaiki diri.

Lupakan masa lalu (karena saya sudah tidak disana), mari berhijrah karena Allah selalu menunggu taubatmu. Jadi, berubahlah. Jangan pernah merasa takut dengan perubahan karena hakikatnya tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Biarkan masa lalu kita berlalu dan tataplah masa depan dengan penuh harapan. Janganlah takut karena Allah pasti menutup aurat kita. Maka bertaubatlah sebelum ajal karena ajal tidak akan pernah menunggu taubat kita. Selamat menikmati sajian kalimat demi kalimat dalam buku ini. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menjadikan kita manusia yang jauh lebih baik.

Ramadan 1439H
Evie Effendie

1 review for Titik Balik Ustaz Evie Effendie: Reborn Dengan Hijrah

  1. Ikapi Jabar

    benar-benar menginspirasi

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *